New York, detikline.com - Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) kembali menunda pemungutan suara terhadap rancangan resolusi yang diajukan oleh Bahrain terkait pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Berdasarkan laporan CNN yang mengutip Reuters, voting yang semula dijadwalkan pada Jumat (3/4) waktu setempat di New York, sempat diundur ke Sabtu (4/4). Namun, agenda tersebut kembali ditangguhkan hingga pekan depan tanpa kepastian tanggal.
Hingga kini, perwakilan Bahrain di PBB belum memberikan penjelasan resmi terkait alasan penundaan tersebut.
Potensi Penggunaan Kekuatan Militer Picu Penolakan
Draf resolusi yang diajukan Bahrain membuka kemungkinan bagi negara anggota untuk menggunakan kekuatan militer dalam mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Mandat tersebut mencakup operasi individu maupun kerja sama maritim multinasional, termasuk penggunaan kekuatan defensif di wilayah perairan terkait.
Sejumlah negara anggota DK PBB, termasuk China dan Rusia, dilaporkan menyatakan keberatan terhadap usulan tersebut.
Utusan China untuk PBB, Fu Cong, menilai langkah itu berpotensi melegitimasi penggunaan kekuatan yang tidak sejalan dengan hukum internasional.
“Langkah tersebut berisiko memicu eskalasi lebih lanjut dan membawa konsekuensi serius,” ujarnya.
Mandat Terbatas dan Sorotan terhadap Iran
Dalam draf yang beredar, mandat operasi dirancang berlaku selama enam bulan dengan kewajiban pelaporan berkala kepada DK PBB. Resolusi juga menegaskan bahwa kebijakan tersebut bersifat terbatas dan tidak dimaksudkan sebagai preseden hukum internasional.
Selain itu, draf tersebut turut menyoroti tindakan Iran yang dinilai mengancam stabilitas perdagangan global dan keamanan energi.
Ketegangan Regional Jadi Latar Belakang
Penundaan voting terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Sejumlah laporan menyebutkan adanya serangan udara yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran, serta aksi balasan yang diklaim dilakukan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps.
Situasi ini turut menyeret Bahrain, yang diketahui menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Hingga saat ini, dinamika di Selat Hormuz masih menjadi perhatian dunia internasional mengingat perannya sebagai salah satu jalur utama distribusi energi global. Rill/Red

0Komentar