New York, detikline.com - Kepala Operasi Penjaga Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jean-Pierre Lacroix, mengonfirmasi tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) gugur dalam insiden ledakan di Lebanon selatan saat menjalankan misi perdamaian PBB.
Ketiga prajurit tersebut tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon atau United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), yang bertugas mengawasi situasi keamanan di wilayah perbatasan Lebanon–Israel.
Dalam konferensi pers di Markas Besar PBB, New York, Lacroix menjelaskan bahwa insiden terjadi dalam dua peristiwa terpisah di wilayah Lebanon selatan yang saat ini menjadi area konflik antara militer Israel dan kelompok Hizbullah.
“Pagi ini, dua anggota pasukan penjaga perdamaian Indonesia tewas dalam ledakan yang menghantam konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan. Dua personel lainnya terluka, satu di antaranya dalam kondisi kritis,” ujar Lacroix, Senin (30/3), dalam keterangan tertulis.
Ia menambahkan, sehari sebelumnya satu prajurit TNI juga gugur akibat ledakan di pangkalan UNIFIL di El Tayeb. Dalam insiden tersebut, satu personel lainnya mengalami luka serius dan telah dievakuasi ke rumah sakit di Beirut.
Prajurit TNI yang gugur pada Minggu (29/3) diketahui bernama Praka Farizal Rhomadhon. Ia meninggal dunia akibat ledakan proyektil di dekat salah satu pos kontingen Indonesia di wilayah Adchit Al Qusayr.
Pihak UNIFIL menyatakan, dua prajurit yang gugur pada Senin meninggal akibat ledakan dari sumber yang masih dalam penyelidikan.
Insiden ini menjadi korban pertama dari Indonesia sejak meningkatnya kembali konflik antara Israel dan Hizbullah pada Maret 2026. Ketegangan di kawasan tersebut meningkat setelah serangan terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, bersama pemerintah Indonesia, menyampaikan kecaman atas insiden tersebut. Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, juga mendesak digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB.
“Keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditawar dan harus dijunjung tinggi setiap saat,” tulis Sugiono dalam pernyataannya, Selasa (31/3).
Sementara itu, militer Israel menyatakan tengah melakukan penyelidikan menyeluruh terkait insiden tersebut. Pasukan Pertahanan Israel atau Israel Defense Forces menegaskan bahwa penyelidikan dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti kejadian.
“Insiden-insiden tersebut sedang ditinjau secara menyeluruh untuk menentukan apakah disebabkan oleh aktivitas Hizbullah atau faktor lainnya,” demikian pernyataan IDF.
IDF juga menekankan bahwa wilayah Lebanon selatan merupakan zona pertempuran aktif, sehingga berbagai risiko keamanan tetap tinggi bagi seluruh pihak yang berada di area tersebut.
Sebagai informasi, UNIFIL saat ini memiliki sekitar 10.000 personel penjaga perdamaian dari berbagai negara, termasuk sekitar 1.200 prajurit TNI yang tergabung dalam misi tersebut.
Misi UNIFIL sendiri bertugas menjaga stabilitas dan memantau situasi keamanan di sepanjang garis demarkasi antara Lebanon dan Israel, wilayah yang kerap menjadi titik konflik antara militer Israel dan kelompok Hizbullah. Rill/Red
.jpeg)
0Komentar