GfM7TSA8TfMiTpM6GSG7BSzlGd==

Breaking News:

00 month 0000

Lubang Raksasa Aceh Tengah Meluas, Badan Geologi: Berpotensi Terus Berkembang

Lk
Font size:
12px
30px
Print

Aceh Tengah, detikline.com - Fenomena lubang raksasa di Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, dilaporkan semakin meluas dan berpotensi mengancam area permukiman warga sekitar.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai fenomena ini memiliki karakteristik mirip sinkhole (lubang amblesan), namun dengan mekanisme yang berbeda karena dipengaruhi kondisi geologi setempat.

Plt Kepala Badan Geologi ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa sinkhole umumnya identik dengan batuan gamping (karst), tetapi kejadian di Pondok Balik menunjukkan bahwa material vulkanik juga dapat mengalami kerentanan serupa.

“Fenomena sinkhole memang identik dengan batuan gamping (karst), namun kejadian di Pondok Balik, Ketol, Aceh Tengah, membuktikan bahwa material vulkanik juga memiliki kerentanan serupa, meski dengan mekanisme yang sedikit berbeda,” ujar Lana, dikutip dari Detik, Minggu (1/2).

Menurut Badan Geologi, pergerakan tanah di lokasi tersebut sudah berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Faktor jenis batuan, kemiringan lereng, serta keberadaan aliran irigasi disebut berkontribusi terhadap potensi perluasan lubang.

Berdasarkan keterangan warga setempat, pergerakan tanah telah terjadi sejak beberapa tahun lalu dan cenderung semakin aktif pada musim hujan.

“Batuan dasar berupa batuan vulkanik yang didominasi oleh tufa yang bersifat loose (lepas) dan porous (berongga), kemiringan lereng yang sangat terjal hampir tegak, serta adanya saluran irigasi di bagian selatan yang berpotensi meluap saat hujan deras atau meresap ke bawah permukaan,” jelasnya.

Lana menambahkan, kondisi lereng yang tidak stabil dan jenuh air membuat batuan menjadi lebih gembur. Selain itu, aliran air yang mengikis tebing dari samping menyebabkan pelebaran lembah dan memperbesar potensi longsor.

“Hal ini membuat lereng tidak stabil dan jenuh air, sehingga batuan menjadi gembur dan massa batuan bertambah berat. Ditambah adanya erosi lateral oleh rembesan air di bagian lembah lereng, menyebabkan terjadinya longsoran dan runtuhan batuan,” katanya.

Ia menegaskan, selama aliran air bawah permukaan tidak dapat dikendalikan, potensi perluasan lubang masih tetap ada.

“Selama penyebabnya berupa aliran air di bawah permukaan tidak bisa dihentikan, maka berpotensi terjadi perluasan,” tambahnya.

Sudah Muncul Sejak Awal 2000-an

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah menyatakan bahwa fenomena pergerakan tanah di Kampung Bah, Kecamatan Ketol, telah berlangsung sejak awal tahun 2000-an dan terus membesar hingga kini.

Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, menyebut bahwa berdasarkan berbagai sumber, lubang kecil sudah mulai terbentuk sekitar awal 2000-an, dengan pergerakan tanah yang terus berlangsung secara bertahap sejak 2004.

“Beberapa sumber menjelaskan bahwa lubang kecil sudah mulai terbentuk sejak awal tahun 2000-an. Pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap sejak 2004,” kata Andalika, Kamis (15/1), dikutip dari Antara.

Meski demikian, ia mengakui hingga kini belum ada kajian ilmiah yang secara pasti menjelaskan penyebab awal terbentuknya longsoran tanah berbentuk lubang tersebut.

Berdasarkan laporan masyarakat, pada tahun 2006 longsoran sempat memutus akses jalan Blang Mancung–Simpang Balik, yang merupakan jalur penghubung Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Dampak dari peristiwa tersebut juga memaksa relokasi warga Kampung Bah Serempah ke Kampung Serempah Baru pada periode 2013–2014.

“Rehabilitasi dan rekonstruksi dilakukan dalam tiga tahap pada periode tersebut,” jelas Andalika. Rill/Red

Reaksi:
Baca juga:
ads banner
ads banner