GfM7TSA8TfMiTpM6GSG7BSzlGd==

Breaking News:

00 month 0000

Munas XI APRISINDO Dorong Penguatan Pasar Domestik dan Daya Saing Global Industri Alas Kaki

Lk
Font size:
12px
30px
Print

Jakarta, detikline.com - Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) XI pada Rabu (21/1/2026) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Forum ini menegaskan arah kebijakan strategis industri alas kaki nasional di tengah tantangan global, sekaligus memperkuat konsolidasi pelaku industri.

Munas XI APRISINDO mengusung tema “Memperkokoh Industri Alas Kaki Indonesia Jaya di Pasar Domestik, Unggul di Pasar Global.” Tema tersebut menekankan pentingnya penguasaan pasar dalam negeri oleh industri nasional, serta peningkatan daya saing Indonesia di pasar internasional.

APRISINDO menilai industri alas kaki harus mampu menjadi tuan rumah di pasar domestik melalui produk berkualitas, harga kompetitif, dan beridentitas nasional.

Perlindungan pasar domestik serta pengawasan terhadap praktik perdagangan tidak sehat dipandang sebagai faktor kunci keberlangsungan industri.

Di sisi lain, keunggulan di pasar global tidak hanya diukur dari volume ekspor, tetapi juga kualitas produk, kepatuhan terhadap standar internasional, inovasi desain, produktivitas, serta komitmen terhadap keberlanjutan.

Dengan pendekatan tersebut, industri alas kaki Indonesia diharapkan mampu memperkuat posisinya dalam rantai pasok global.

Industri alas kaki merupakan sektor padat karya yang menyerap sekitar 1,3 juta tenaga kerja. Sektor ini berperan penting sebagai penopang ekonomi nasional melalui penciptaan lapangan kerja dan kontribusi terhadap penerimaan negara.

Dari sisi kinerja, ekspor alas kaki nasional menunjukkan ketahanan di tengah fluktuasi ekonomi global. Berdasarkan World Footwear Book 2025, Indonesia tercatat sebagai produsen ekspor alas kaki terbesar ketiga di dunia, dengan nilai ekspor mencapai USD 32 miliar sepanjang periode 2020–2024.

Pada 2024, nilai ekspor melonjak 13,13 persen menjadi USD 7,28 miliar. Hingga November 2025, ekspor tercatat USD 7,25 miliar, tumbuh 9,08 persen secara tahunan. Amerika Serikat masih menjadi pasar utama dengan kontribusi sekitar 30 persen. Meski menghadapi tarif resiprokal sebesar 19 persen sejak Agustus 2025, ekspor ke AS hingga November 2025 tetap tumbuh 7,73 persen menjadi USD 2,54 miliar.

Pasar Eropa mencatat nilai ekspor USD 1,59 miliar hingga November 2025 dan dinilai memiliki prospek positif seiring implementasi penuh kerja sama IEU-CEPA dengan target tarif 0 persen.

Sementara itu, pasar China mengalami kontraksi dalam tiga tahun terakhir dengan nilai USD 500,87 juta, sehingga membutuhkan strategi penetrasi pasar yang lebih spesifik.

Munas XI APRISINDO juga menyoroti tantangan struktural industri, khususnya terkait iklim usaha. Pelaku industri mendorong kebijakan deregulasi untuk menyederhanakan persyaratan administrasi dan teknis, mempercepat layanan perizinan, serta menekan biaya produksi.

Selain itu, insentif fiskal dan kebijakan pendukung dinilai penting, termasuk kemudahan impor bahan baku seperti kulit, kain, dan benang secara efisien, serta peningkatan ketersediaan bahan baku dalam negeri.

Ketua Umum APRISINDO Anton J. Supit menegaskan isu pengupahan menjadi tantangan utama industri padat karya alas kaki. Kebijakan pengupahan berdasarkan PP Nomor 49 Tahun 2025 dinilai masih memberatkan industri, terutama akibat tingginya angka sektoral dan faktor alfa.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga iklim investasi di Jawa Tengah. Menurutnya, jika tingkat pengupahan di wilayah tersebut disamakan dengan provinsi berbiaya tinggi, terdapat risiko relokasi investasi ke daerah lain.

Melalui Munas XI, APRISINDO merumuskan rekomendasi program kerja untuk menjaga keseimbangan dan keberlanjutan industri, baik bagi pelaku yang berorientasi pasar domestik skala menengah dan UMKM/IKM, maupun industri berorientasi ekspor yang terintegrasi dalam rantai pasok global. Rill/Red

Reaksi:
Baca juga:
ads banner
ads banner