Jakarta, detikline.com — Persatuan Usaha Mandiri Ormas (PUMO) resmi dibentuk dalam rapat pembentukan pengurus yang digelar pada Minggu, 24 Mei 2026, di Masjid Al-Bukhari, Gang Mes Ujung Kebon Pala 1 RT 006/RW 016 No. 288, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Pembentukan PUMO menjadi langkah awal dalam membangun wadah persatuan usaha berbasis organisasi kemasyarakatan yang mengedepankan semangat kebersamaan, kemandirian ekonomi, serta penguatan jaringan antarormas.
Dalam rapat tersebut, disepakati susunan pengurus inti PUMO, yaitu:
- Ketua: Ahmad Junaedi Effendi
- Wakil Ketua: Chaidir, S.Sos
- Sekretaris: Taty Suharty.D
- Wakil Sekretaris: Lindawati Wibowo
- Bendahara: Ariyatni
- Wakil Bendahara: Riska
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah tokoh organisasi masyarakat, di antaranya Ketua Umum Relawan Gerakan Rakyat Indonesia (RGRI) Sarbini, S.H., Ketua Umum Gerakan 24 Bela Bangsa Riyanto, perwakilan PARMUSI, serta sejumlah pimpinan dan anggota organisasi kemasyarakatan lainnya dari wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Dalam sambutannya, Ketua PUMO Ahmad Junaedi Effendi menjelaskan bahwa pembentukan organisasi tersebut bertujuan memperkuat persatuan dan kemandirian usaha antaranggota ormas, sekaligus membangun sinergi yang positif bagi masyarakat.
Menurutnya, PUMO hadir bukan hanya sebagai wadah organisasi, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi ekonomi, persaudaraan, dan pemberdayaan masyarakat.
Ketua PUMO Ahmad Junaedi Effendi menjelaskan, PUMO akan bergerak dalam berbagai bidang usaha dan kegiatan sosial kemasyarakatan, mulai dari usaha barang, jasa, kuliner, kerajinan, hingga pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) berbasis organisasi kemasyarakatan.
Menurutnya, konsep utama PUMO adalah menciptakan wadah usaha mandiri yang melibatkan anggota ormas secara langsung dalam kegiatan ekonomi kerakyatan dengan prinsip kebersamaan dan gotong royong.
“PUMO bukan hanya organisasi biasa, tetapi wadah pemberdayaan ekonomi masyarakat dan anggota ormas agar bisa mandiri, produktif, dan memiliki penghasilan bersama,” ujar Ahmad Junaedi Effendi.
Dalam bidang usaha, PUMO akan membuka berbagai kegiatan perdagangan dan UMKM, seperti penjualan pakaian layak pakai, kuliner makanan dan jajanan rakyat, minuman, atribut organisasi, hingga produk kerajinan dan kebutuhan rumah tangga.
Selain itu, PUMO juga akan mengembangkan kegiatan jasa, seperti pengobatan alternatif, pijat tradisional, bantuan hukum, jasa keamanan parkir, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.
Tidak hanya fokus pada ekonomi, PUMO juga akan aktif dalam kegiatan sosial, budaya, dan keagamaan, seperti santunan anak yatim, bantuan kaum dhuafa, donor darah, pengobatan gratis, pertunjukan seni budaya Betawi, pencak silat, palang pintu, hingga hiburan marawis.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan usaha PUMO direncanakan melibatkan berbagai organisasi masyarakat dengan sistem pembagian tenant usaha yang tertata agar setiap anggota memiliki kesempatan usaha yang adil dan merata.
PUMO juga menyiapkan konsep usaha terpadu berbasis komunitas yang melibatkan kerja sama dengan pemerintah maupun pihak swasta, termasuk dukungan fasilitas usaha, sponsor kegiatan, hingga koordinasi keamanan bersama unsur tiga pilar.
Seluruh keuntungan kegiatan usaha nantinya juga diarahkan untuk mendukung kegiatan sosial, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat.
“Harapan kami, PUMO bisa menjadi wadah persatuan usaha mandiri ormas yang benar-benar bermanfaat untuk masyarakat, memperkuat ekonomi kerakyatan, sekaligus menjaga nilai persaudaraan dan kebersamaan,” pungkasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Junaedi juga memaparkan filosofi logo PUMO yang sarat dengan makna persatuan, nasionalisme, dan kesejahteraan.
Lingkaran merah putih pada logo melambangkan persatuan, semangat kebangsaan, serta kebersamaan anggota dalam satu tujuan. Sementara simbol jabat tangan di tengah menggambarkan kerja sama, solidaritas, dan komitmen membangun jaringan usaha yang saling menguatkan.
Selain itu, simbol padi dan kapas dimaknai sebagai lambang kesejahteraan, kemakmuran, dan harapan agar seluruh anggota memperoleh keberhasilan usaha dengan tetap menjunjung nilai kerendahan hati dan kebersamaan.
Adapun tiga figur manusia pada logo melambangkan gotong royong dan persatuan anggota dari berbagai latar belakang organisasi, profesi, dan usaha. Sedangkan simbol bintang mencerminkan cita-cita, harapan, dan semangat untuk terus berkembang menuju masa depan yang lebih baik.
“Makna besar dari PUMO adalah bersatu dalam persaudaraan, mandiri dalam usaha, kuat dalam kebersamaan, dan mengabdi untuk kesejahteraan masyarakat serta bangsa Indonesia,” jelas Ahmad Junaedi Effendi.
Kegiatan pembentukan pengurus berlangsung penuh keakraban dan semangat kebersamaan. Para peserta berharap PUMO dapat menjadi organisasi yang mampu memperkuat sinergi antarormas sekaligus mendorong pertumbuhan usaha mandiri masyarakat.
Dengan terbentuknya kepengurusan tersebut, PUMO diharapkan dapat menjadi wadah kolaborasi yang aktif, produktif, dan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan sosial maupun ekonomi masyarakat. Rill/Red
Reporter: CiLindaHuang



0Komentar