GfM7TSA8TfMiTpM6GSG7BSzlGd==

Breaking News:

00 month 0000

FSGI Soroti Kasus Keracunan MBG di Jakarta Timur, Desak Evaluasi Menyeluruh Program

Lk
Font size:
12px
30px
Print

JAKARTA, detikline.com - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyampaikan keprihatinan atas kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa 72 siswa tingkat SD dan SMA di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur, usai mengonsumsi menu spageti dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Peristiwa ini terjadi saat kegiatan belajar mengajar baru kembali berjalan pasca libur Idulfitri 1447 H.

Para siswa dilaporkan mengalami gejala keracunan dan sebagian harus menjalani perawatan di rumah sakit.

FSGI menilai, perbedaan kondisi fisik setiap anak memungkinkan adanya variasi dampak kesehatan. Namun, jumlah siswa yang harus dirawat menunjukkan adanya persoalan serius yang perlu ditelusuri lebih lanjut.

Ketua Dewan Pakar FSGI, Retno Listyarti, menyatakan bahwa pemerintah kerap menggunakan data capaian untuk menunjukkan keberhasilan program, namun dinilai belum optimal dalam mengevaluasi kasus-kasus keracunan yang terjadi.

“Kasus keracunan yang berulang justru menjadi indikator adanya persoalan mendasar dalam pelaksanaan program,” ujarnya.

Berdasarkan data FSGI, jumlah korban keracunan MBG pada Februari 2026 tercatat sebanyak 1.920 orang, menurun 32,2 persen dibandingkan Januari yang mencapai 2.835 orang. Namun, secara kumulatif, jumlah korban dalam dua bulan pertama 2026 mencapai 4.755 orang, atau rata-rata 2.377 korban per bulan.

Ketua Umum FSGI, Fahriza Marta Tanjung, menyebutkan bahwa angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata bulanan tahun 2025. Data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat total 20.012 kasus sepanjang 2025, atau sekitar 1.667 kasus per bulan.

“Artinya, terdapat peningkatan rata-rata korban bulanan yang cukup signifikan pada tahun ini,” ujarnya.

FSGI menilai kondisi ini perlu menjadi perhatian serius, mengingat program MBG menyasar kelompok rentan seperti peserta didik, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Program yang bertujuan meningkatkan gizi tersebut diharapkan tidak menimbulkan risiko kesehatan.

Menurut FSGI, kasus keracunan yang terjadi berulang mengindikasikan kemungkinan adanya persoalan pada aspek pengawasan, kualitas bahan makanan, kebersihan, maupun distribusi.

FSGI juga menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program, tidak hanya berfokus pada perbandingan data jangka pendek, tetapi juga tren secara keseluruhan.

“Jika rata-rata bulanan meningkat dibanding tahun sebelumnya, maka perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap sistem yang berjalan,” kata Retno.

Lebih lanjut, FSGI menegaskan bahwa penanganan kasus tidak cukup hanya dengan pembiayaan perawatan korban. Perbaikan sistem dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

FSGI mengingatkan bahwa angka ribuan korban dalam waktu singkat merupakan sinyal peringatan serius yang memerlukan perhatian dan langkah perbaikan yang komprehensif dari seluruh pemangku kepentingan. Rill/Red

Reaksi:
Baca juga:
ads banner
ads banner