GfM7TSA8TfMiTpM6GSG7BSzlGd==

Breaking News:

00 month 0000

Pengabdian Nyata Mahasiswa STIK Angkatan 83 WPS melalui Reboisasi, Bantuan Sosial, dan Pembangunan Pondok Sementara bagi Warga Peunaron, Aceh Timur

Lk
Font size:
12px
30px
Print

Aceh Timur, detikline.com – Sore itu, Selasa (24/02/2026), udara di lereng Gunung Putus masih menyimpan jejak luka. Tanah yang pernah terbelah akibat longsor pada November 2025 terlihat mulai mengeras, namun bekas runtuhannya tetap membekas di tebing dan tanggul Sungai Peureulak, Desa Peunaron Lama, Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur. Di antara sisa reruntuhan itulah, harapan ditanam secara harfiah.

Sebanyak 21 mahasiswa STIK Lemdiklat Polri Angkatan 83 WPS Sindikat II hadir dengan agenda “Pengabdian Masyarakat” yang tidak sekadar seremonial. Didampingi Perwira Pendamping Kombes Pol Firdaus Wulanto, S.I.K., serta disaksikan Kasubbagwatpers Bag SDM Polres Aceh Timur Iptu Jasman, S.Sos., Geuchik Peunaron Lama Samsul Bakri, dan personel Polsek Serbajadi, kegiatan dimulai pukul 15.00 WIB hingga menjelang senja.

Sebanyak 30 bibit pohon ditanam di tebing Gunung Putus dan sepanjang tanggul Sungai Peureulak, titik yang sebelumnya terdampak longsor.

Reboisasi tersebut bukan sekadar simbol kepedulian lingkungan, melainkan ikhtiar memulihkan bentang alam yang rusak sekaligus mencegah bencana serupa terulang. Dengan seragam lapangan yang basah oleh peluh, para mahasiswa bergantian menggali tanah dan menegakkan batang-batang muda yang kelak diharapkan menjadi penahan erosi alami.

Agenda mereka tidak berhenti pada penghijauan. Di Dusun Sejahtera, perhatian tertuju pada sebuah rumah yang tak lagi berdiri. Ibu Ruwaida (53) kehilangan tempat tinggalnya setelah longsor Gunung Putus menimbun kediamannya beberapa bulan lalu. Sejak saat itu, ia bertahan dalam keterbatasan.

Mahasiswa STIK Angkatan 83 WPS Sindikat II kemudian membangun pondok sementara sebagai hunian darurat yang sederhana, namun cukup untuk melindungi Ibu Ruwaida dari panas dan hujan. Papan demi papan dirakit bersama, membentuk struktur yang tak hanya menyangga atap, tetapi juga menjaga martabat.

Selain pembangunan pondok, bantuan sembako dan perlengkapan kebutuhan sehari-hari turut diserahkan secara langsung kepada Ibu Ruwaida. Bantuan tersebut mungkin tidak besar secara logistik, namun memiliki arti penting di tengah kondisi serba kekurangan.

Perwakilan mahasiswa, Iptu Fauzan, S.Tr.K., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran empati yang tidak diperoleh di ruang kelas.

“Kami ingin hadir bukan hanya sebagai aparat penegak hukum di masa depan, tetapi juga sebagai bagian dari solusi sosial di tengah masyarakat,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Iptu Yoga Dwi Arjuna, S.Tr.K. Menurutnya, pengalaman turun langsung ke lokasi bencana memberikan perspektif berbeda mengenai tugas kepolisian.

“Kehadiran polisi harus dirasakan manfaatnya, terutama saat masyarakat berada dalam kondisi paling rentan,” katanya.

Di Peunaron sore itu, reboisasi menjadi metafora. Pohon-pohon muda yang ditanam di lereng Gunung Putus akan tumbuh perlahan, sebagaimana upaya membangun kembali kehidupan yang sempat runtuh. Dari pondok sementara yang kini berdiri, harapan pun menemukan ruangnya untuk kembali tumbuh. Rill/Wen

Reaksi:
Baca juga:
ads banner
ads banner