Sulawesi Selatan, detikline.com - Tim SAR gabungan kembali menemukan delapan korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Dengan penemuan tersebut, total korban yang berhasil ditemukan hingga Kamis (22/1) berjumlah 14 orang.
Dari delapan korban terbaru, dua jenazah telah berhasil diidentifikasi masing-masing sebagai pramugari Florencia Lolita Wibisono dan staf Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Deden Maulana. Sementara itu, sejumlah potongan tubuh manusia (body part) masih dalam proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI).
“Kita bersyukur sudah delapan korban ditemukan dan satu tulang. Mudah-mudahan jumlahnya bisa bertambah sehingga seluruh korban dapat ditemukan,” ujar Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin, Kolonel Inf Dody Triyo Hadi, di Posko SAR Tompo Bulu.
Dody menjelaskan, enam korban ditemukan dalam radius sekitar 50 meter dari titik awal penemuan jenazah Deden Maulana. Lokasi penemuan berada sekitar 250 meter di bawah puncak Gunung Bulusaraung.
“Salah satu jenazah berada di sisi selatan titik awal, sekitar 100 meter ke bawah. Tim masih terus menyisir sisi lainnya,” katanya.
Saat ini, tim SAR gabungan masih berupaya mengevakuasi para korban menuju puncak gunung. Proses pengangkatan direncanakan menggunakan teknik jetring, metode yang sebelumnya telah diterapkan saat evakuasi korban lainnya.
“Kita doakan bersama prosesnya berjalan lancar sehingga seluruh jenazah bisa diangkat ke puncak, kemudian dievakuasi ke posko dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara,” jelas Dody.
Untuk mendukung proses tersebut, tim SAR mengerahkan tim rescue vertikal. Tantangan utama di lapangan adalah medan yang curam serta kondisi jenazah yang menyulitkan proses evakuasi dan pengemasan ke dalam kantong jenazah. Selain itu, penggunaan teknik jetring juga memerlukan kehati-hatian tinggi.
Dody menambahkan, faktor cuaca menjadi perhatian penting. Jika kondisi memungkinkan, jenazah yang telah melalui proses pelabelan oleh tim DVI akan dievakuasi menggunakan helikopter melalui lapangan bola Desa Tompo Bulu. Namun, apabila cuaca tidak mendukung, jalur darat tetap menjadi alternatif.
“Kondisi jenazah dilaporkan sudah membengkak karena berada di lokasi selama enam hari, sehingga identifikasi awal di lapangan cukup sulit,” ungkapnya.
Untuk korban yang masih belum ditemukan, tim SAR mengubah strategi pencarian. Jika sebelumnya tim kembali ke posko setiap hari, kini pencarian dilakukan dengan sistem tiga hari bertahan di lapangan dengan perbekalan yang telah disiapkan.
“Kami membagi area pencarian menjadi delapan sektor dengan kode warna berbeda agar jenazah yang berdekatan lokasinya dapat ditemukan lebih cepat,” pungkas Dody. Rill/Lk

0Komentar