GfM7TSA8TfMiTpM6GSG7BSzlGd==

Breaking News:

00 month 0000

Muktamar PARMUSI dan Ujian Kepemimpinan Baru: Kemenangan Bersama, Tanggung Jawab Lima Tahun ke Depan

Lk
Font size:
12px
30px
Print

Jakarta, detikline.comTerpilihnya Dr. H. Ali Amran Tanjung sebagai Ketua Umum PARMUSI periode lima tahun ke depan, 2025- 2030 dengan mengungguli Plt. Ketua Umum Prof. Dr. Husnan Bey Fanani dan Ir.Abdurrahman Syagaf,  bukan sekadar peristiwa elektoral internal organisasi. 

Ia adalah cermin dari bagaimana sebuah ormas Islam mengelola perbedaan, menyalurkan aspirasi, dan merawat demokrasi internal secara dewasa.

Di tengah banyaknya contoh organisasi bahkan partai politik yang terjebak konflik berkepanjangan akibat kontestasi kepemimpinan, Muktamar PARMUSI justru menunjukkan wajah sebaliknya: berjalan relatif mulus, tertib, dan berakhir dengan penerimaan bersama.                   

Ini bukan prestasi kecil. Dalam konteks keindonesiaan hari ini, proses seperti ini patut dicatat dan diapresiasi.  Namun, sebagaimana hukum politik dan organisasi pada umumnya, euforia kemenangan hanyalah titik awal. Ujian sesungguhnya bagi kepemimpinan baru PARMUSI justru dimulai setelah palu muktamar diketuk.

PARMUSI dalam Sejarah dan Tantangan Zaman

PARMUSI bukan ormas Islam baru. Ia lahir dari dinamika sejarah panjang umat Islam Indonesia, dengan spirit persaudaraan, dakwah, dan kebangsaan yang kuat. 

Sejak awal, PARMUSI memposisikan diri sebagai ormas Islam yang berkomitmen pada Pancasila, NKRI, dan demokrasi, sembari tetap menjaga identitas keislamannya.

Namun zaman berubah cepat. Lima hingga sepuluh tahun terakhir menunjukkan bahwa peran ormas Islam mengalami tekanan ganda. 

Di satu sisi, umat berharap ormas menjadi penopang moral, advokat keadilan, dan penggerak pemberdayaan sosial. Di sisi lain, negara dan publik juga menuntut ormas tetap moderat, inklusif, dan tidak terjebak pada politik praktis yang memecah belah.

Dalam lanskap seperti ini, PARMUSI menghadapi tantangan eksistensial:

Apakah ia sekadar menjadi organisasi simbolik, atau mampu tampil sebagai aktor sosial yang relevan?

Muktamar sebagai Kemenangan Bersama

Penting ditegaskan sejak awal: hasil Muktamar PARMUSI ini bukan kemenangan satu figur atas figur lain. Ini adalah kemenangan kolektif organisasi. Baik Dr. H. Ali Amran Tanjung maupun Prof. Dr. Husnan Bey Fanani dan Ir. Abdurrahman Syagaf adalah bagian dari rumah besar PARMUSI.              

Keduanya memiliki rekam jejak, kontribusi, dan basis pendukung masing-masing. Karena itu, penerimaan hasil muktamar secara dewasa menjadi sinyal positif bahwa kedewasaan organisasi masih terjaga. Tidak ada narasi delegitimasi berlebihan, tidak ada eskalasi konflik pasca-muktamar, dan tidak ada upaya memecah barisan.

Dalam konteks ini, peran elite organisasi sangat krusial. Keteladanan dalam menerima hasil muktamar akan menentukan apakah PARMUSI melangkah ke depan sebagai organisasi solid, atau justru membawa luka-luka laten yang menghambat kerja kepengurusan baru.

Kepemimpinan Baru dan Beban Ekspektasi

Terpilihnya Dr. H. Ali Amran Tanjung otomatis menempatkannya pada pusaran ekspektasi besar. Ekspektasi internal dari kader dan wilayah, serta ekspektasi eksternal dari umat dan publik luas.

Setidaknya ada empat beban utama yang akan menguji kepemimpinan Ketua Umum baru PARMUSI:

Konsolidasi Internal

Pasca-muktamar, tugas pertama dan paling mendesak adalah merajut kembali seluruh elemen organisasi. Tidak boleh ada dikotomi “pendukung A” dan “pendukung B”. Jika konsolidasi gagal, energi organisasi akan habis untuk urusan internal, bukan pengabdian umat.

Peneguhan Identitas dan Arah Gerakan

PARMUSI harus menjawab pertanyaan mendasar: apa peran strategisnya di tengah rimba ormas Islam Indonesia? Apakah fokus pada dakwah, pendidikan, advokasi kebijakan publik, ekonomi umat, atau kombinasi semuanya dengan skala prioritas yang jelas?.

Relevansi di Ruang Publik

Di era media sosial dan disrupsi informasi, ormas yang tidak memiliki narasi publik akan tenggelam. Kepemimpinan baru dituntut mampu menghadirkan suara PARMUSI dalam isu-isu kebangsaan secara jernih, sejuk, dan solutif.

Hubungan dengan Negara dan Masyarakat Sipil

PARMUSI harus mampu menjaga keseimbangan: tidak larut dalam kooptasi kekuasaan, tetapi juga tidak mengambil posisi oposisi membabi buta. Kritik konstruktif dan kerja sama strategis harus berjalan beriringan.

Lima Tahun: Waktu yang Singkat tapi Menentukan

Secara formal, masa jabatan lima tahun terlihat panjang. Namun dalam praktik organisasi nasional, lima tahun adalah waktu yang sangat singkat. Tahun pertama biasanya habis untuk konsolidasi dan penataan struktur. Tahun terakhir sering tersedot ke agenda muktamar berikutnya. Artinya, waktu efektif untuk kerja nyata hanya sekitar tiga tahun.

Karena itu, publik wajar jika bersikap menunggu sekaligus mengawasi. Apa gebrakan awal kepemimpinan baru? Apakah akan ada program unggulan yang menyentuh kebutuhan riil umat pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan keadilan sosial? Ataukah PARMUSI akan kembali terjebak pada rutinitas organisasi yang minim dampak?.

Tantangan Umat dan Peran Ormas Islam

Kepemimpinan PARMUSI ke depan tidak bisa dilepaskan dari konteks umat Islam Indonesia hari ini. Ketimpangan ekonomi, akses pendidikan yang belum merata, krisis moral di ruang publik, hingga polarisasi politik yang belum sepenuhnya sembuh, semuanya membutuhkan kehadiran ormas Islam yang dewasa dan berwibawa.

Di sinilah ujian utama Ketua Umum baru: apakah PARMUSI mampu menjadi jembatan, bukan pengeras suara kemarahan; menjadi penyejuk, bukan penyulut emosi; dan menjadi penggerak solusi, bukan sekadar komentator.

Dari Legitimasi Formal ke Legitimasi Moral

Muktamar memberi Dr. H. Ali Amran Tanjung legitimasi formal. Namun legitimasi yang lebih sulit diraih adalah legitimasi moral. Legitimasi moral lahir dari konsistensi, keberpihakan pada kepentingan umat, dan keberanian mengambil sikap benar meski tidak selalu populer.

Sejarah ormas Islam di Indonesia menunjukkan satu pelajaran penting: organisasi besar tidak selalu ditentukan oleh jumlah pengurus atau luas struktur, melainkan oleh kepercayaan publik.     

Menunggu dengan Harapan, Mengawal dengan Kritis

Akhirnya, Muktamar PARMUSI telah selesai. Kontestasi telah berakhir. Kini saatnya seluruh energi diarahkan ke masa depan. Terpilihnya Dr. H. Ali Amran Tanjung adalah fakta organisasi yang harus dihormati.                            

Namun penghormatan tidak identik dengan pujian tanpa kritik. Sebagaimana disampaikan banyak kalangan, ini adalah kemenangan bersama. Karena itu pula, tanggung jawabnya adalah tanggung jawab bersama. Publik berhak berharap, kader berhak menuntut, dan umat berhak menilai.

Lima tahun ke depan akan menjadi ruang pembuktian: apakah PARMUSI mampu menjawab tantangan zaman, atau sekadar bertahan sebagai nama besar tanpa daya dorong nyata.

Kita saksikan bersama dengan harapan, doa, dan sikap kritis yang sehat agar kepemimpinan baru PARMUSI benar-benar menjadi berkah bagi umat dan bangsa.

(Jurnalis: Lindawati Wibowo, S.I.Kom)

Reaksi:
Baca juga:
ads banner
ads banner