Jakarta, detikline.com - Pembukaan Muktamar X Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (27/9) sore, berlangsung tegang. Dua kubu kader PPP terlihat saling berteriak saat Plt Ketua Umum PPP, Muhammad Mardiono, naik panggung untuk memberikan sambutan.
Pantauan di lokasi, sejumlah kader tiba-tiba berdiri sambil berteriak “Turun!” ketika Mardiono mulai berbicara. Suasana pun memanas hingga terjadi dorong-dorongan di arena muktamar. Pembawa acara sempat menghentikan kegiatan dan meminta peserta untuk kembali ke tempat duduk.
Setelah beberapa saat, kondisi kembali kondusif dan Mardiono melanjutkan sambutannya. Namun, teriakan kader masih terdengar.
Sebagian berteriak “Ketua baru, perubahan,” sementara kubu lain menyerukan “Lanjutkan!” sebagai bentuk dukungan terhadap kepemimpinan Mardiono.
Dalam muktamar ini, PPP memiliki tiga agenda utama: penyampaian pertanggungjawaban kinerja lima tahun, pembahasan rencana kerja lima tahun ke depan, serta pembentukan struktur organisasi baru, termasuk pemilihan ketua umum periode 2025–2030.
Sehari sebelumnya, dalam acara doa bersama jelang Muktamar, Mardiono mengaku telah mendapat dukungan signifikan dari kader. Ia menyebut sekitar 70 persen pemilik suara telah mendeklarasikan dukungan agar dirinya kembali memimpin PPP.
“Lebih dari 68–70 persen memang sudah mendeklarasikan agar saya melanjutkan kepemimpinan periode 2025–2030. Itu keinginan para kader,” kata Mardiono, Jumat (26/9).
Meski demikian, Mardiono menegaskan dirinya tidak berambisi pribadi dan menyerahkan sepenuhnya pada mekanisme muktamar.
“Kalau memang tidak mayoritas ya artinya belum memenuhi syarat. Saya juga tidak membentuk tim sukses, karena bagi saya ini amanah perjuangan, bukan jabatan,” ujarnya.
Mardiono juga menanggapi isu munculnya nama mantan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto yang disebut bakal maju dalam pemilihan ketua umum. Menurutnya, PPP adalah partai kader, sehingga ada mekanisme khusus bagi pihak luar yang ingin bergabung.
“Kalau anda punya rumah, tentu ada aturan untuk tamu maupun keluarga. Kalau keluarga bebas keluar masuk, tapi kalau tetangga atau tamu, ya harus sesuai aturan,” kata Mardiono menegaskan. Rill/lala

0Komentar