Jakarta, detikline.com - Wakil Ketua DPC PPP Jakarta Utara, Lindawati Wibowo, menilai Muktamar X Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tahun 2025 harus menjadi momentum kebangkitan sejati partai berlambang Ka’bah tersebut.
Ia menegaskan, PPP perlu meninggalkan praktik politik transaksional yang hanya mengejar kursi kekuasaan.
“PPP harus kembali menjadi rumah besar umat Islam. Jika berani berubah, bukan hanya kembali ke Senayan pada Pemilu 2029, tetapi juga kembali ke hati umat,” ujar Lindawati, yang pada 2024 lalu maju sebagai caleg DPRD DKI Jakarta dari PPP di Dapil 2.
Mengutip sebuah pepatah, ia menegaskan, perubahan adalah kunci bertahan hidup.
“Jika PPP ingin tetap hidup, maka keterbukaan dan perubahan adalah harga mati. Jika tidak, sejarah akan mencatat PPP sebagai partai yang memilih jalan sunyi: berubah atau punah,” tambahnya.
Namun, jalannya Muktamar X sempat diwarnai kericuhan. Perdebatan sengit antar peserta terkait calon ketua umum berujung adu mulut hingga perkelahian. Kursi bahkan sempat dilemparkan dalam insiden tersebut.
Menanggapi hal itu, Lindawati meminta para kader dan simpatisan menahan diri.
“Perbedaan pendapat pasti ada dalam pemilihan ketua umum. Namun, bedanya ada yang mengedepankan kesantunan dan ada yang tidak. Kami minta semua muktamirin menahan diri agar tidak mencederai proses Muktamar X,” tegasnya.
Menurutnya, sebagai partai Islam, PPP tidak pantas mengedepankan keributan.
“Kalau maunya ribut terus dan hanya cari sensasi, bagaimana bisa mendapatkan simpati umat? Konflik justru membuat kita semakin jauh dari masyarakat. Semoga ini tidak terulang kembali,” ucapnya.
Ia menilai dinamika pro dan kontra dalam muktamar adalah hal wajar.
Namun, jika sudah berujung anarkis, kondisi itu dinilai berlebihan dan kontraproduktif bagi masa depan partai. Rill/Lk



0Komentar