Penulis: Lala
Dua puluh tahun kita berjalan beriringan.
Kita pernah tertawa, pernah bertengkar, lalu saling mencari. Karena diam terasa lebih menyakitkan daripada kata-kata yang melukai.
Kita pernah berjanji, tak akan saling kehilangan.
Tapi nyatanya, takdir tidak selalu berpihak pada janji.
Jarak mulai merayap tanpa suara.
Waktu mengiris perlahan, meninggalkan celah yang makin melebar.
Lalu suatu hari, tanpa kita sadari, percakapan terakhir kita ternyata adalah akhir. Tak ada pamit, tak ada pesan, tak ada kata “selamat tinggal.”
Hanya senyap, yang pelan-pelan menutup semua pintu.
Kini aku berjalan sendirian, tapi di setiap sudut hidupku, masih ada bayanganmu.
Masih ada tawa yang terjebak di ingatan.
Masih ada potongan cerita yang tak sanggup kubuang.
Dan aku tahu, meski langkah kita kini tak lagi seirama, meski namamu tak lagi muncul di layar ponselku.
Persahabatan itu tak akan pernah mati.
Tetap hidup sebagai jejak yang tak pernah pudar.
Jejak yang waktu pun tak sanggup menghapusnya.
Karena persahabatan sejati,
Meski hilang tanpa pamit.
Akan meninggalkan jejak yang tak mampu dihapus waktu.
Meski hilang tanpa pamit.
Akan meninggalkan jejak yang tak mampu dihapus waktu.
Reaksi:

0Komentar