Jakarta, detikline.com - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Jawara Betawi Fisabilillah (JBF) menggelar rapat konsolidasi internal di Aula Masjid An-Nur, Jalan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (25/8/2026).
Rapat tersebut digelar sebagai bentuk konsolidasi organisasi dalam menyikapi dinamika dan wacana rencana aksi demonstrasi yang disebut akan berlangsung pada 27 Agustus 2026.
Ketua DPP JBF, Rahmat Suci (Otoy), mengundang jajaran pengurus serta anggota JBF dari berbagai wilayah di DKI Jakarta.
Sejumlah tokoh yang berada dalam barisan JBF turut hadir, di antaranya Taupik Burung, Yusman Sabeni, Master King, Tb. Bambang (Jingkrik Goning), Asep Bango, Fais Sungkar, Babe Raymon, serta sejumlah tokoh masyarakat lainnya.
Rapat konsolidasi dipimpin langsung oleh Wakil Ketua Umum JBF Rudi Fattah, didampingi Wasekjend Ariyatni dan Wakil Bendahara Umum Riyanto bin Drajat.
Dalam rapat tersebut, jajaran JBF membahas berbagai dinamika tuntutan publik yang belakangan menjadi perhatian masyarakat. Salah satunya terkait desakan terhadap pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset, serta dorongan agar penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi dilakukan secara tegas dan berkeadilan.
Ketua DPP JBF Rahmat Suci (Otoy) mengatakan, pihaknya menghormati hak setiap warga negara dalam menyampaikan pendapat di muka umum. Namun, JBF memilih untuk mengambil posisi netral dan tidak membawa organisasi ke dalam kepentingan kelompok tertentu.
“Kami menghormati setiap warga negara yang ingin menyampaikan aspirasi. Tetapi JBF memiliki sikap yang jelas, yaitu netral dan tidak berpihak kepada kelompok mana pun. Kami ingin seluruh dinamika yang terjadi tetap berjalan dalam koridor hukum dan tidak menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat,” ujar Rahmat Suci (Otoy).
Menurutnya, aspirasi masyarakat merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Karena itu, setiap pihak diharapkan dapat menyampaikan pendapat secara tertib, santun dan bertanggung jawab.
“Kalau ada tuntutan masyarakat yang ingin disampaikan, silakan disampaikan secara damai. Jangan sampai perbedaan pendapat justru menimbulkan keributan. Kita semua punya tanggung jawab menjaga Jakarta tetap aman dan kondusif,” tegasnya.
Rahmat juga mengimbau seluruh anggota JBF untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar di media sosial, terutama informasi yang sumber dan kebenarannya belum dapat dipastikan.
“Kami meminta seluruh jajaran JBF tetap tenang, jangan mudah terprovokasi, dan jangan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Sikap organisasi adalah netral dan mengutamakan keamanan serta persatuan masyarakat,” katanya.
Melalui hasil konsolidasi tersebut, DPP JBF secara resmi menegaskan tidak berpihak kepada kelompok mana pun dalam rencana aksi 27 Agustus 2026.
JBF berharap seluruh pihak, baik masyarakat, peserta aksi maupun aparat keamanan, dapat mengedepankan komunikasi dan menjaga situasi tetap aman serta kondusif. Penyampaian aspirasi, menurut JBF, harus tetap menjadi bagian dari proses demokrasi tanpa mengorbankan keamanan dan ketertiban masyarakat. Rill/Eno

.jpeg)
0Komentar