Papua, detikline.com – Momentum 1 Mei kembali menjadi sorotan dalam refleksi sejarah dan penguatan persatuan di Tanah Papua. Hal ini disampaikan oleh Steve R. E. Mara, mahasiswa program doktoral asal Papua yang tengah menempuh studi di Inggris.
Menurut Steve, pemahaman yang utuh terhadap sejarah Papua merupakan kunci penting dalam memperkuat persatuan serta mendorong generasi muda untuk berperan aktif dalam pembangunan.
Ia menjelaskan bahwa proses integrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan bagian dari dinamika panjang dekolonisasi yang melibatkan berbagai pihak di tingkat internasional.
Tahapan penting seperti Konferensi Meja Bundar hingga Perjanjian New York 1962 disebut sebagai proses diplomasi yang sah dan diakui secara global.
Puncaknya, pada 1 Mei 1963, Papua secara resmi diserahkan kepada Indonesia melalui mekanisme yang difasilitasi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Ini adalah bagian dari sejarah yang harus dipahami secara utuh. Integrasi Papua merupakan hasil proses panjang yang melibatkan hukum internasional dan kesepakatan global,” ujar Steve. Senin (27/04).
Lebih lanjut, ia mengajak generasi muda Papua untuk tidak terjebak dalam perdebatan masa lalu, melainkan fokus pada pembangunan masa depan. Peningkatan kualitas diri melalui pendidikan dan keterlibatan aktif dalam berbagai sektor dinilai menjadi langkah strategis dalam mendorong kemajuan daerah.
“Generasi muda Papua harus mengambil peran. Kita perlu meningkatkan kapasitas diri dan bersama-sama membangun daerah serta bangsa ini,” tegasnya.
Steve juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak akurat atau narasi yang berpotensi memecah belah persatuan. Menurutnya, menjaga keutuhan bangsa merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Dengan semangat tersebut, ia berharap Papua dapat terus berkembang melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan generasi muda, sehingga tercipta kondisi yang aman, damai, dan kondusif sebagai fondasi utama pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Rill/Red

0Komentar