GfM7TSA8TfMiTpM6GSG7BSzlGd==

Breaking News:

00 month 0000

PSI Panen Elite, NasDem Kehilangan Mesin Suara: Eksodus Ahmad Ali–Bestari–Rusdi Masse Ubah Peta Kekuatan 2029

Lk
Font size:
12px
30px
Print

Jakarta, detikline.com - Hengkangnya tiga politisi senior Partai NasDem, Ahmad Ali, Bestari Barus, dan Rusdi Masse Mappasessu ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi pukulan politik yang berdampak langsung pada keseimbangan kekuatan menjelang Pemilu 2029.

Perpindahan ini tidak hanya menguntungkan PSI, tetapi juga berpotensi merugikan NasDem secara elektoral dan struktural.

Bagi PSI, masuknya tiga figur tersebut merupakan lonjakan signifikan dalam membangun mesin politik nasional.

Rusdi Masse, khususnya, dikenal sebagai pemilik basis massa kuat di Sulawesi Selatan dan memiliki rekam jejak sebagai peraih suara tertinggi di provinsi tersebut pada Pemilu 2019.

Kehadirannya memperbesar peluang PSI menembus daerah yang selama ini relatif lemah bagi partai-partai non-map.

Pernyataan Ketua DPP PSI Bestari Barus yang menyebut adanya “gerbong besar” menegaskan bahwa yang berpindah bukan sekadar figur, melainkan jaringan politik, loyalis, dan struktur informal di tingkat daerah.

“Dengan gerbong yang sedemikian besar, tentu tempat terbaik untuk Bung Rusdi Masse,” ujar Bestari, dalam keterangan tertulis. Sabtu (24/01).

Ahmad Ali menjadi keuntungan strategis lain bagi PSI. Mantan Wakil Ketua Umum DPP NasDem itu memiliki pengalaman mengelola struktur partai dan jaringan elite nasional. 

Meski gagal dalam Pilgub Sulawesi Tengah 2024, Ahmad Ali tetap memiliki pengaruh signifikan di kawasan Indonesia Timur, yang kini dapat dimobilisasi untuk kepentingan PSI.

Bestari Barus melengkapi keuntungan PSI di level pusat. Dengan latar belakang sebagai mantan Ketua Fraksi DPRD DKI Jakarta, ia memperkuat posisi PSI di Jakarta sekaligus menjadi jembatan antara elite lama dan wajah baru partai yang dipimpin Kaesang Pangarep.

Sebaliknya, bagi NasDem, eksodus tiga tokoh tersebut berpotensi menjadi kehilangan strategis.

Rusdi Masse merupakan salah satu penyumbang suara terbesar NasDem di Sulawesi Selatan, sementara Ahmad Ali pernah menjadi pengendali struktur partai di Sulawesi Tengah.

Kehilangan dua figur ini berisiko melemahkan daya saing NasDem di dua provinsi kunci tersebut.

Secara internal, hengkangnya kader dengan posisi dan pengaruh kuat juga dapat memicu efek domino, terutama jika jaringan pendukung di daerah ikut bermigrasi.

Situasi ini menuntut NasDem melakukan konsolidasi cepat untuk mencegah penyusutan basis suara menjelang kontestasi nasional berikutnya.

Meski demikian, NasDem melalui Sekretaris Jenderal Hermawi Taslim memilih merespons secara normatif dan menyatakan menghormati keputusan politik para kader yang hengkang.

“NasDem ikut senang keduanya mencoba peruntungan di partai baru, semoga sukses,” kata Hermawi.

Pengamat menilai, PSI adalah pihak yang paling diuntungkan dalam dinamika ini.

Partai tersebut tidak hanya mendapatkan figur populer, tetapi juga pengalaman, jaringan, dan mesin suara yang selama ini menjadi kelemahan utama PSI dalam pemilu legislatif.

Sebaliknya, NasDem kini dihadapkan pada tantangan menjaga dominasi di daerah-daerah yang sebelumnya ditopang oleh figur kuat.

Jika tidak diimbangi dengan regenerasi dan penguatan kader lokal, eksodus elite ini dapat berdampak nyata pada perolehan suara NasDem di Pemilu 2029. Rill/lala

Reaksi:
Baca juga:
ads banner
ads banner