Jakarta, detikline.com - Pemerhati spiritual dan pakar potensi, Ki Jumanta menegaskan bahwa jabatan dan kekuasaan sejatinya merupakan amanah suci dari Tuhan yang harus dijalankan dengan penuh kejujuran dan keadilan. Pandangan itu disampaikan dalam forum refleksi bertajuk “Cahaya Hukum Ilahi dalam Kehidupan Modern” yang digelar di Jakarta, Sabtu (9/11).
Dalam kesempatan tersebut, Ki Jumanta juga memberikan sorotan positif kepada Heikal Safar, tokoh muda dan aktivis sosial yang kini aktif di dunia politik.
Ia menilai semangat Heikal dalam memperjuangkan kepentingan rakyat kecil mencerminkan upaya nyata untuk menjalankan nilai-nilai moral dan spiritual dalam kehidupan berbangsa.
“Jabatan bukan sekadar kedudukan duniawi, melainkan anugerah cahaya suci yang berasal dari Tuhan. Ketika seseorang seperti Heikal Safar menjalankannya dengan kejujuran dan keadilan, maka ia tengah menunaikan hukum Tuhan dalam bentuk yang nyata,” ujar Ki Jumanta.
Spirit Ketuhanan dalam Dunia Politik
Menurut Ki Jumanta, seluruh sistem hukum dan tatanan kehidupan di dunia telah ditetapkan oleh Tuhan sebelum alam semesta diciptakan. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk yang diberi kecerdasan sempurna wajib menaati hukum ilahi dan menjadikannya pedoman moral, termasuk dalam bidang politik dan pemerintahan.
“Manusia diciptakan bukan hanya untuk berpikir rasional, tetapi juga untuk memahami rasionalitas cara Tuhan bekerja. Semua hal, baik positif maupun negatif, memiliki peran dalam keseimbangan semesta. Itulah keadilan Tuhan,” tambahnya.
Heikal Safar Tegaskan Komitmen untuk Rakyat Kecil
Ditemui usai acara, Heikal Safar menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan aspirasi masyarakat kecil melalui jalur politik yang bersih dan berintegritas. Ia menilai, perjuangan sosial tidak boleh terlepas dari nilai spiritual dan moral.
“Perjuangan politik bagi saya bukan soal jabatan, tetapi soal pengabdian. Suara rakyat kecil harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan,” tegas Heikal.
Heikal juga menyampaikan apresiasi atas pandangan Ki Jumanta yang mengingatkan pentingnya keseimbangan antara kekuasaan dan ketakwaan. Menurutnya, pesan tersebut sangat relevan di tengah dinamika politik modern yang kerap kehilangan arah moral.
Meneguhkan Nilai Ketuhanan di Ruang Publik
Ki Jumanta menutup refleksinya dengan ajakan kepada seluruh tokoh bangsa agar menjadikan hukum Tuhan sebagai landasan utama dalam menjalankan tanggung jawab publik.
Ia meyakini, jika nilai-nilai ketuhanan diterapkan secara konsisten, maka politik dan kekuasaan akan menjadi jalan untuk menegakkan keadilan dan kasih sayang.
“Ketika hukum Tuhan dijadikan dasar, jabatan tidak lagi menjadi alat kepentingan pribadi, melainkan sarana untuk membangun kemaslahatan umat,” pungkasnya. Rill/Lk

0Komentar